[SALAH] "DI WUHAN CINA KETIKA TERJADI VIRUS CORONA RAKYAT BERBONDONG2 KE MESJID, DI INDON RAKYAT DILARANG KE MESJID"
Archived here with a link to the original.
Mahasiswa Indonesia asal Sabang Aceh, Teuku Agusti Ramadhan yang kuliah di Universitas Zhongnan, Wuhan, China mengatakan bahwa pada hari Jumat ( 31/1/2020 ) ia dan rekannya tidak dapat salat Jumat seperti biasa.
The claim
“DI WUHAN CINA KETIKA TERJADI VIRUS CORONA RAKYAT BERBONDONG2 KE MESJID, DI INDON RAKYAT DILARANG KE MESJID," unggah akun Facebook U Ali Hafid atau @u.hafid.3, Kamis (19/3).
What the fact-checkers found
Akun Facebook U Ali Hafid atau @u.hafid.3 mengunggah status yang membandingkan terkait aktifitas shola saat tersebar virus corona atau COVID-19 antara di Wuhan, China dengan Indonesia. Berikut kutipannya: “DI WUHAN CINA KETIKA TERJADI VIRUS CORONA RAKYAT BERBONDONG2 KE MESJID, DI INDON RAKYAT DILARANG KE MESJID," unggah akun Facebook U Ali Hafid atau @u.hafid.3, Kamis (19/3). Setelah ditelusuri, tulisan akun Facebook @u.hafid.3 adalah tidak benar atau keliru.
Diketahui dari penelusuran melalui mesin pencari, ada artikel berjudul “DUH! Mahasiswa Indonesia di Wuhan Tak Bisa Lagi Sholat Jumat Berjamaah" yang ditayangkan pada 1 Februari 2020. Dalam artikel tersebut Mahasiswa Indonesia asal Sabang Aceh Teuku Agusti Ramadhan yang kuliah di Wuhan, China mengatakan bahwa pada hari Jumat (31/1/2020) ia dan rekannya tidak dapat salat Jumat seperti biasa. Seluruh mesjid di sekitar kota sudah ditutup terkait Corona virus yang mewabah.
“Mesjid sudah ditutup. Jadi kami tidak ada yang keluar ruangan untuk shalat, Sebenarnya mesjid tidak jauh hanya 20 hingga 30 menit naik taxi" jawabnya. Agus yang kala itu sendiri berada di salah satu asrama Kampus Universitas Zhongnan menjelaskan merasa beruntung dengan kemudahan adanya makanan yang didapat dari kantin sekitar kampus yang dapat dipesan dan diantarkan.
Ketua Cakradonya Himpunan Mahasiswa Aceh di Wuhan itu juga menyatakan bahwa 12 mahasiswa asal Aceh termasuk dirinya hanya bertahan di ruangan masing–masing dan berkomunikasi melalui media sosial (medsos). “Komunikasi masih jalan di grup medsos, tapi kami tetap harus waspada penularan virus. Menhindari kontak langsung" sebutnya. Tidak hanya di Wuhan, di Beijing, Masjid Nanxiapo juga meniadakan salat Jumat saat dilanda virus corona.
Jika sebelumnya ada kabar di media sosial yang mengatakan bahwa di China setelah tersebar COVID-19 banyak warganya yang berbondong–bondong melakukan salat Jumat adalah tidak benar adanya. Klaim tersebut telah diperiksa oleh tempo.co.id dalam artikel yang berjudul “[Fakta atau Hoaks] Benarkah Warga Cina Berdesakan untuk Salat Jumat Setelah Virus Corona Mewabah?". Sementara di Indonesia, terkait dengan sebaran COVID-19.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi wabah COVID-19. Begini isinya. Fatwa tersebut berjudul Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19. Seperti dilihat detikcom, Senin (16/3/2020), ada 9 ketentuan hukum yang mendasari fatwa ini. MUI meminta pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam upaya penanggulangan COVID-19.
Ketentuan Hukum Rekomendasi Ketentuan Penutup Fatwa MUI ini pun mendapatkan berbagai respon dari pemerintah daerah maupun pihak masjid. Seperti di DKI Jakarta, Gubernur Anies Baswedan menyatakan meniadakan Sholat Jumat, sementara di Masjid Nasional Al-akbar Surabaya, JawaTimur tetap melaksanakan Sholat Jumat berjamaah pekan ini.
Where it circulated
Media Sosial Facebook
Got a similar message?
Paste it into the detector and see whether it matches a known hoax.
Check a similar message